HUBUNGAN GEJALA GANGGUAN KOORDINASI DENGAN PAJANAN BISING DIATAS NILAI AMBANG BATAS KEBISINGAN PADA PEKERJA BENGKEL DI KECAMATAN SEBERANG ULU

INTAN ZAKIYAH, 702021074 (2025) HUBUNGAN GEJALA GANGGUAN KOORDINASI DENGAN PAJANAN BISING DIATAS NILAI AMBANG BATAS KEBISINGAN PADA PEKERJA BENGKEL DI KECAMATAN SEBERANG ULU. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Palembang.

[img] Text
702021074.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Tempat kerja yang memiliki risiko tinggi pajanan kebisingan adalah bengkel. Kebisingan dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan, terutama jika terjadi secara terus-menerus, yang dapat menyebabkan penurunan konsentrasi dan kelelahan. Salah satu faktor yang mengganggu di lingkungan kerja adalah kebisingan, yang dapat mempengaruhi pendengaran, bergantung pada frekuensi, intensitas, dan durasi pajanan. Menurut Permenaker RI Nomor 5 Tahun 2018, kebisingan didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan yang berasal dari alat kerja dan dapat menimbulkan risiko gangguan pendengaran pada tingkat tertentu. Pajanan kebisingan yang berlangsung terus-menerus pada tingkat ini dapat menimbulkan keluhan kesehatan dan gangguan pendengaran. Penelitian ini fokus pada gejala gangguan koordinasi non-auditorik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan gejala gangguan koordinasi dengan pajanan bising diatas nilai ambang batas kebisingan pada pekerja bengkel di Kecamatan Seberang Ulu. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Data primer diperoleh melalui pemeriksaan langsung. Sampel menggunakan 50 pekerja bengkel di Kecamatan Seberang Ulu yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil uji Chi-Square tidak memenuhi syarat sehingga menggunakan uji alternatif Fisher’s. Hasil uji Fisher’s Exact Test, diperoleh nilai signifikansi atau P-Value sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pajanan bising di atas ambang batas kebisingan memiliki hubungan yang signifikan dengan gejala gangguan koordinasi nonauditorik. Odds Ratio (OR) yang diperoleh adalah 35 (95% CI = 3,7-331,059), yang berarti risiko terjadinya gangguan koordinasi non-auditorik pada bengkel yang terpajan bising lebih dari 85 dB adalah 35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bengkel yang tidak terpajan bising atau memiliki kebisingan di bawah 85 dB. Kata kunci : Gangguan Koordinasi, Pajanan Bising

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: 1. dr. Ardi Artanto. M.K.K., Sp.OK,HIMA 2. dr. Yesi Astri, Sp. N., M. Kes
Uncontrolled Keywords: Kata kunci : Gangguan Koordinasi, Pajanan Bising
Subjects: Pendidikan Kedokteran > Penyakit-Penyakit
Divisions: Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter (S1)
Depositing User: Dwi Augustiana
Date Deposited: 22 Mar 2025 02:30
Last Modified: 22 Mar 2025 02:30
URI: http://repository.um-palembang.ac.id/id/eprint/30015

Actions (login required)

View Item View Item

is powered by EPrints 3 which is developed by the School of Electronics and Computer Science at the University of Southampton. More information and software credits.