RESTI JUWITA MAHARANI, NIM. 352022006 (2026) PELAKSANAAN SISTEM TANAM PAKSA DI KERESIDENAN PALEMBANG 1830--1870 (SUATU KAJIAN HISTORIS). Skripsi thesis, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG.
|
Text
352022006_Cover_BAB I_Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text
352022006_BAB II.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (689kB) |
|
|
Text
352022006_BAB III.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (638kB) |
|
|
Text
352022006_BAB IV.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (651kB) |
|
|
Text
352022006_BAB V.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (439kB) |
|
|
Text
352022006_Daftar Pustaka.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (500kB) |
|
|
Text
352022006_Lampiran.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
|
|
Text
352022006_Cover_Sampai_Lampiran.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (5MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk mengetahui tentang pelaksanaan sistem tanam paksa di Keresidenan Palembang 1830-1870. Rumusan Masalah (1) Apa yang melatarbelakangi diterapkannya sistem tanam paksa oleh pemerintah kolonial Belanda di Keresidenan Palembang tahun 1830-1870? (2) Bagaimana mekanisme dan aturan pokok sistem tanam paksa di Keresidenan Palembang? (3) Bagaimana dampak ekonomi, sosial dan kultural dari pelaksanaan tanam paksa bagi kehidupan masyarakat Keresidenan Palembang pada masa itu? (4) Mengapa sistem tanam paksa akhirnya mendapat kritik dan mulai dihapuskan di Keresidenan Palembang? Jenis Penelitian Kajian Pustaka. Metode yang penulis gunakan adalah metode historis dengan cara mengumpulkan data (heuristik), penafsiran (interpretasi), sehingga menghasilkan penulisan Sejarah (historiografi). Penulis juga menggunakan pendekatan historis, pendekatan politik, pendekatan sosial, pendekatan ekonomi, pendekatan geografi dan pendekatan militer. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Latar belakang diterapkannya sistem tanam paksa di Keresidenan Palembang berkaitan dengan krisis keuangan pemerintah kolonial Belanda setelah Perang Diponegoro dan konflik di Eropa. Untuk menutupi defisit negara, Belanda menjadikan wilayah jajahan sebagai sumber pemasukan melalui eksploitasi ekonomi. Penerapan sistem ini juga dipengaruhi oleh kegagalan sistem pajak tanah (landrente) serta upaya menghidupkan kembali monopoli ekonomi seperti VOC dalam bentuk baru. Tanam paksa di Palembang juga didukung oleh letak geografis yang strategis, tanah yang subur, kekayaan sumber daya alam dan jalur perdagangan Sungai Musi yang memudahkan distribusi hasil perkebunan ke pasar internasional. (2) Mekanisme pelaksanaan sistem tanam paksa di Keresidenan Palembang dilakukan melalui kerja sama pemerintah kolonial dengan elite lokal seperti pasirah, depati, dan kepala marga untuk mengawasi penanaman tanaman ekspor, terutama kopi dan lada. Meskipun secara resmi rakyat hanya diwajibkan menyediakan seperlima tanah dan mendapat perlindungan tertentu, dalam praktiknya sering terjadi penyimpangan berupa perluasan lahan wajib tanam, kerja berlebih dan pembayaran hasil panen yang rendah. Akibatnya, sistem ini lebih menguntungkan pemerintah kolonial Belanda dibandingkan masyarakat pribumi. (3) Sistem tanam paksa memberikan dampak besar terhadap kehidupan ekonomi, sosial dan kultural masyarakat Palembang. Dalam bidang ekonomi, rakyat kehilangan kebebasan mengelola lahan sehingga produksi pangan menurun dan kemiskinan meningkat. Dalam bidang sosial, kesenjangan antara elite lokal dan rakyat semakin besar serta menimbulkan penderitaan akibat beban kerja berat. Dari sisi kultural, masyarakat berubah dari pola agraris tradisional menuju ekonomi kolonial yang berorientasi pasar internasional. (4) Sistem tanam paksa akhirnya mendapat banyak kritik dari masyarakat pribumi dan kaum liberal di Belanda karena dianggap menimbulkan penderitaan rakyat, penyalahgunaan kekuasaan serta bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan ekonomi liberal. Melalui hasil karya Max Havelaar termasuk kritik tersebut juga mendorong pemerintah Belanda mengubah kebijakan kolonial. Sejak tahun 1870, sistem tanam paksa mulai dihapus secara bertahap dan digantikan dengan sistem ekonomi liberal yang memberi peluang bagi perusahaan swasta asing. Namun, perubahan ini tidak mengakhiri eksploitasi kolonial di Keresidenan Palembang, melainkan hanya mengubah bentuk penguasaan ekonomi dari sistem negara menjadi kapitalisme swasta. Saran (1) Bagi pembaca dengan membaca keseluruhan tulisan ini diharapkan mampu mengetahui pelaksanaan sistem tanaman paksa di Palembang 1830-1870. (2) Bagi mahasiswa Pendidikan sejarah semoga penulisan ini dapat menginspirasi untuk penelitian selanjutnya. (3) Bagi perpustakaan universitas muhammadiyah Palembang khususnya perpustakaan FKIP diharapkan dapat menambah koleksi karya ilmiah tentang sejarah kolonial dan sejarah lokal Sumatera Selatan dan dapat meningkatkan akses terhadap sumber digital, sehingga kegiatan penelitian sejarah dapat dilakukan dengan lebih mudah dan lebih mendalam.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information: | Dosen Pembimbing : I. Dra. Nurhayati M.Pd., II. Dewi Setyawati M.Pd., |
| Uncontrolled Keywords: | Kata Kunci: Tanam Paksa, Cultuurstelsel, Palembang |
| Subjects: | Dokumen FKIP > Prodi Sejarah |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Keguruan Dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Sejarah (S1) |
| Depositing User: | Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan |
| Date Deposited: | 18 Aug 2026 04:17 |
| Last Modified: | 18 Aug 2026 04:17 |
| URI: | http://repository.um-palembang.ac.id/id/eprint/36949 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
